hanya ingin dimanjakan

Juli 15, 2006 at 4:33 pm (pelacur)

di kamar hotel dengan video pendidih gairah itu
aku hanya ingin dimanjakan olehnya
telanjang berdua
mandi bersama — aku dimandikan
berpelukan di depan cermin dalam balutan handuk
menciuminya lembut
sejak kening, mata, pipi, bibir
lalu leher, tengkuk, telinga, ketiak, susu, pusar, paha

kugendong dia ke ranjang
aku tengkurap
dia memijiti sebisanya
itu pun sebentar

aku telentang
dia bungkukkan badan
sorongkan payudara mungil untuk disusu
aku ngocok
lalu minta dikocok
tanpa penetrasi
pancaran mani menyembur payudara dan wajah

belum pernah aku dapat yang gini, katanya
kamu lucu, katanya
kamu dari tadi bayangkan wanita siapa, tanyanya

gadis cina pangkalpinang bangka yang cedal itu mirip dirimu nie!

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

ikatan longgar

Juli 15, 2006 at 12:16 pm (kekasih, pelacur)

apakah kita pacaran karena jalan bersama, tidur bersama, makan bersama, tanpa imbalan uang?

kita tak pernah bicara cinta
aku memanggilmu sayang
aku tidur bersamamu kadang tanpa persetubuhan
kita tak pernah bicara cinta
kau memanggilku mas
kau menyapaku sayang — kata yang aku tahu biasa diucapkan oleh setiap pekerja seks kepada pelanggannya

apakah kita pacaran?
apakah kita sepasang kekasih?

angkat handphonemu
aku tak pernah melarangmu menerima order

penuhi segera panggilan itu
baik call dari mami maupun pelanggan
kau tidak sedang berada dalam penyewaanku

“kamu anggap aku apaan?
aku memangĀ  perek, lonte
tapi aku berhak menolak setiap pesanan
oh bukan itu maksudku
aku nggak tahu gimana njelasinnya
tapi mestinya kamu merasa
saat seperti ini, di tempatmu ini,
aku memang sedang nggak kamu sewa,
ini bukan bisnis…
tapi jangan pikir aku nggak punya perasaan!
terlalu kalau aku terima panggilan!
bukan, bukan karena aku takut sama kamu!
aku tahu kamu memberiku kebebasan
boleh terus bekerja
tidur dengan lelaki lain demi bayaran!
memang ada juga rasa nggak enak terhadap kamu
kalau aku terima panggilan dan pergi
seolah aku nggak tahu diri!
tapi bukan itu masalahnya…
kamu ngerti nggak sih, mas sayang?
jelek-jelek gini aku tahu berterima kasih,
nggak semua hal aku nilai dengan uang.
aku sebetulnya menghargaimu
tapi sekaligus nggak tega.
kalau saja hubungan kita cuma bisnis
sebatas lonte dan pelanggan
kayaknya nggak akan rumit…”

tangismu pecah
berbalik badan
bahu terguncang

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar